Sejarah Qurban Lengkap| Sejarah Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Sejarah Qurban – Umat Muslim merayakan Idul Adha setiap 10 Dzulhijjah dalam kalendar Islam. Hari ini disebut juga dengan lebaran Haji karena bertepatan juga dengan pelaksanaan ibadah haji. Ada juga yang menyebut hari ini lebaran kurban karena mereka yang mampu untuk berkurban diwajibkan menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada masyarakat yang kurang mampu.

Bagaimana awal bermulanya sejarah qurban?

Sejarah Qurban dan Awal Mula Terjadinya

Sejarah Qurban
Arrahmah.co.id
Di dalam Al-qur’an telah diceritakan, Nabi Ibrahim adalah salah satu nabi yang sangat bertaqwa, sangat wira’i dan cinta kepada Allah SWT. Pada suatu hari Nabi Ibrahim berqurban sebanyak 1000 ekor kambing, 100 ekor unta budunah dan 300 ekor kambing ke jalan Allah dengan membuat malaikat dan orang lain menjadi heran.

Beliau berkata “Setiap apapunn yang membuatku dengan Allah, maka tiada suatu pun yang berharga bagiku. Demi Allah, apabila aku memiliki seorang anak, niscaya aku akan menyembelihnya ke jalan Allah. Jika itu bisa mendekatkanku kepada Allah”.

Waktu terus berlalu dan berganti, beliau lupa dengan ucapan yang telah ia ucapkan. Saat beliau berada di Baitul Muqaddas, beliau memohon kepada Allah untuk dikaruniai seorang anak. Kemudian Allah mengabulkan permohonan beliau.

Beliau dikaruniai seorang putra yang sholeh dan sangat tampan bernama Ismail dari istri beliau Hajar. Sebagaimana yang telah tertulis pada surat Ash-Shoffat ayat 100 yang artinya:

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS Ash-Shafaat [37] : 100)

Allah berfirman dalam Al-qur’an pada Surat Ash-Shoffat Ayat 102:

فلما بلغ معه السعي
“Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim” (Q.S Ash-Shoffat : 102)

Sejarah Qurban Dari Kisah Nabi Ibrahim

idberqurban.wordpress.com

Sejarah qurban bermula dari peristiwa Nabi Ibrahim yang ingin menyembelih putranya Nabi Ismail. Setelah itu disyiarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang menganjurkan semua umat islam untuk menyembelih qurban pada hari raya Idul Adha atau Haji.

Beginilah sejarah qurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Telah dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim belum dikaruniai anak hingga dimasa tuanya, lalu beliau berdo’a kepada Allah. Kemudian Allah memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim akan lahir seorang anak yang sabar.

Dialah Ismail, yang dilahirkan oleh Siti Hajar, Istri Nabi Ibrahim. Dialah Ismail, yang telah dilahirkan oleh Siti Hajar. Menurut para ahli sejarah, Nabi Ismail lahir saat Nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Wallahua’lam.

Perjalanan Siti Hajar

Setelah itu Nabi Ibrahim as membawa Siti Hajar dan Ismail yang saat itu masih bayi dan masih menyusu pada ibunya ke Makkah. Pada saat itu tidak ada penduduk dan air. Nabi Ibrahim as meninggalkan mereka disana dengan geribah yang di dalamnya berisi kurma dan juga bejana kulit yang berisi air.

Setelah itu Nabi Ibrahim pun berangkat, Siti Hajar mengikuti beliau dan seraya berkata,

“Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi?, Apakah engkau akan meninggalkan kami di dalam lembah ini yang tidak ada seorang pun dan juga tidak terdapat makanan yang bisa kami makan?”

Pertanyaan itu terus menerus diucapkan, akan tetapi Nabi Ibrahim tetap pergi dan tidak menoleh sama sekali, hingga akhirnya Siti Hajar bertanya kepada beliau,

“Apakah Allah yang telah menyuruhmu melakukan ini?”

Nabi Ibrahim menjawab, “Ya”

“Jika begitu, berarti kami tidak disia-siakan.” Setelah mendengar jawan Nabi Ibrahim tersebut, Siti Hajar kembali. Nabi Ibrahim pun berangkat sehingga saat Ia jauh dari sampai di Tsamiyah, Ia pun menghadapkan wajahnya ke Baitullah sembari berdo’a:

“Yaa Tuhan kami, sesungguhnya aku sudah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang sangat kami hormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati kami cenderung kepada mereka dan berilah rezeki mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.” (Q.S Ibrahim [14] : 37).

Dan Siti Hajar pun menyusui Ismail dan meminum air yang ada. Sehingga saat air yang ada dalam bejana telah habis, maka Ia dan Puteranya Ismail merasa haus. Lalu Siti Hajar memperhatikan Ismail kecil menangis. Ia tidak tega melihat anaknya kehausan, lalu Ia pergi mencari air.

Perjalanan Siti Hajar Mencari Air

Dalam perjalalan Ia bertemu dengan dengan Shafa, yaitu bukit yang terdekat dengannya. Setelah itu Ia berdiri di atas bukit tersebut dan menghadap ke lembah sambil melihat-lihat adakah orang disekitar sana, akan tetapi ia tidak menemukan satu orang pun disana. Ia melakukan itu terus menerus, berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali.

Setelah Mendekati bukit Marwa Siti Hajar mendengarkan sebuah suara. Ia pun berkata “Diam!” untuk dirinya sendiri. Setelah itu Ia berusaha untuk mendengar lagi suara tadi hingga akirnya Ia mendengarnya lagi.

“Engkau sudah memperdengarkan. Apakah engkau dapat menolong?”.

Tiba-tiba Ia bertemu Malaikat di dekat sumber air Zamzam. Setelah itu Malaikat tersebut menggali tanah dengan tumitnya hingga keluarlah air. Selanjutnya Siti Hajar Ibunda Ismail menampung air dengan menggunakan tangannya dan menciduknya hingga air mengalir bertambah deras.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Ibu Ismail (Siti Hajar), jika saja Ia membiarkan Zamzam – atau Beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalam berkata : ‘Seandainya dia tidak menciduk airnya, niscaya Zamam menjadi mata air yang selalu mengalir”.

Setelah itu Siti Hajar (Ibunda Ismail) meminum air tersebut dan menyusui anaknya Ismail. Ismail tumbuh menjadi anak yang pintar dan belajar bahasa Arab di kalangan Bani Jurhum. Hingga pada suatu hari, Nabi Ibrahin ayahnya datang menjumpainya. Allah menceritakan kisah ini dalam Al-Qur’an:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama dengan Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, Sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”. (Q.S Ash-Shafaat [37] : 102).

Nabi Ibrahim datang menemui Ibrahim anaknya untuk menyampaikan perintah Allah untuk menyembelihnya. Apakah kalian bisa membayangkannya teman-teman? Setelah menunggu selama bertahun-tahun, pada usia yang tua Nabi Ibrahim baru dikaruniai seorang anak.

Sejarah Qurban Dalam Al-Qur’an

Lalu Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan anak dan istrinya di suatu tempat yang asing dan juga jauh darinya serta tidak ada seorang penghuni di tempat tersebut. Walaupun sangat besar kecintaan beliau terhadap keluarganya, namun beliau merupakan orang teguh pendirian dan taat pada perintah Allah. Tidak ada keraguan sedikitpun, bahkan beliau bersegera saat Allah memerintahkannya.

Nabi Ismail alaihi salam pun menjawab:

“Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q S Ash-Shafaat [37] : 102)

Nabi Ismali alaihi salam ayahnya (Nabi Ibrahim) untuk mengerjakan apa yang telah Allah perintahkan kepadanya. Dan beliau berjanji akan menjadi orang yang sabar dalam menjalani perintah Allah. Sungguh sangat mulia sifat Nabi Ismail.

Allah pun memujinya di dalam Al-Qur’an, Surat Maryam ayat 54:

“Dan ceritakanlah (Hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya Ia adalah orang yang benar janjinya dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi.” (Q S Maryam [19] : 54)

Allah melanjutkan kisah Nabi Ismail dalam Surat Ash-Shafaat [37] : 103)

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), )nyatalah kebenaran keduanya).” (Q S Ash-Shafaat [37] : 103)

Nabi Ibrahim lalu membaringkan Ismail anaknya diatas pelipisnya (pada bagian wajahnya) dan bersiap melakukan penyembelihan dan Ismail pun siap mengikuti perintah ayahnya.

“Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat [37] : 104:107)

Hikmah Qurban

Allah menguji Nabi Ibrahim dengan perintah untuk menyembelih Ismail anaknya tercinta. Nabi Ibrahim dan Ismail oun menunjukkan keteguhan, ketaatan dan kesabaran mereka dalam menjalankan perintah itu. Setelah itu Allah menggantikannya dengan sembelihan yang besar, yakni berupa domba jantan besar dari Surga berwarna putih, bermata bagus, bertanduk dan juga diikat dengan rumput samurah. Wallahu a’lam.

Demikianlah sejarah qurban dari Nabi Ibrahim dan Ismail yang kemudian menjadi ibadah sunnah yang tama bagi umat Islam di Dunia pada Hari Raya Idul Adha. Semoga dengan mengetahui sejarah qurban ini kita bisa lebih memahami sebab akibatnya.

Tinggalkan komentar