Sejarah Pramuka di Dunia dan di Indonesia Beserta Biografi Pendirinya

Sejarah Pramuka

SEJARAH PRAMUKA – Baik itu di Indonesia maupun dunia, tidak dipisahkan dari sosok Bapak Pandu Sedunia, pendiri gerakan Pramuka, Baden Powell. Sejarah tersebut dimulai saat Pria yang memiliki nama lengkap Lord Robert Baden Powell Gilwell ini memulai perkemahan pertamanya bersama dengan 22 orang anak laki-laki di tanggal 25 Juli 1907 di Pulau Brownsea, Inggris.

Perkemahan ini berjalan selama 8 hari, itu menjadi pondasia sejarah penting dari lahirnya gerakan Pramuka Dunia. Ciri khas militer yang telah menyatu pada dirinya, membuat Baden Powell dikenal sebagai sosok yang sangat tegas, terampil dan disiplin. Sifat-sifat yang memang sudah menjadi ciri khas dari gerakan Pramuka.

Nah, pada kesempatan kali ini kita akan mengupas kembali sejarah berdirinya gerakan pramuka. Pembicaraanya akan membahas seputar sosok tokoh yang sangat penting, yakni pendiri gerakan Pramuka. Sejarah Pramuka di dunia dan tentu juga sejarah Pramuka di Indonesia, Selamat membaca!.

Biografi Pendiri Pramuka, Baden Powell

Sejarah Pramuka
ilmusejarah.com

Tadi telah kita singging sedikit bahwa tokoh penting yang menjadi latar belakang berdirinya gerakan Pramuka adalah Bapak Baden Powell. Membicarakan tentang gerakan Pramuka di dunia dan di Indonesia tentu sangat janggal jika tidak mengenal siapa Baden Powell. Selain sebagai pendiri gerakan Pramuka dunia, pengalaman Lord Baden Powell adalah orang yang mendasari pembinaan remaja di Inggris yang setelah itu berkembang dan beradaptasi sebagai sistem pendidikan kepramukaan di dunia.

Siapa itu Baden Powell?

Baden Powell adalah Bapak Pandu atau Chief of the World yang sangat dikenal dengan panggilan Baden Powell lahir di London, Inggris pada 22 Februari 1857, saat lahir diberi nama Robert Stephenson Smyth Powell. Ayahmya bernama Domine Baden Powell, yang merupakan seorang profesor geometri di Universitas Oxford yang mennggal saat Baden Powell masih kecil

Karena dari kecil Baden Powell telah ditinggal oleh ayahnya, beliau memperoleh pendidikan karakter dan berbagai macam keterampilan dari ibu dan saudara-saudaranya. Peran sang ibu yang sangat penting bagi perkembangannya sangat diakui oleh Baden Powell. Beliau pernah mengungkapkannya “Rahasia keberhasilan saya adalah ibu saya”.

Baden Powell kecil merupakan anak yang cerdas, lucu, dan ceria. Sifat ini membuat Baden Powell sangat disenangi oleh teman-temannya. Selain itu, Baden Powell juga dikenal sangat terampil dalam memainkan alat musik piano dan biola dan juga mahir ber-teater, berenang, berkemah, berlayar, menggambar dan mengarang.

Setelah beranjak dewasa, Baden Powell kemudian bergabung dengan angkatan militer Inggris. Banyak hal telah dialami oleh Baden Powell selama menjadi tentara. Pengalaman-pengalaman tersebut beliau abadikan dan dibukukan dengan judul “Aids to Scouting” pada tahun 1899.

Buku ini berisi penjelasan dan panduan untuk tentara muda Inggris dalam melaksanakan tugasnya di lapangan. Tak disangka, buku karyanya tersebut terjual laris di Inggris. Bahkan, buku ini juga telah banyak dibaca oleh para guru dan organisasi kepemudaan.

Melihatnya antusias pembaca terhadap buku “Aids to Scouting“, Seorang pendiri organisasi pemuda di Inggris , Willian Alexander Smith menyaraknakan kepadanya untuk menulis ulang buku tersebut. Baden Powell menyetujui saran tersebut. Buku itupun ditulis ulang oleh Baden Powell, akan tetapi dengan berbagai revisi agar cocok dan bisa dibaca oleh remaja-remaja yang bukan berasal dari ketentaraan.

Awal Permulaan

Untuk menguji semua ide yang terkandung di dalam buku barunya tersebut, Baden Powell melaksanakan sebuah acara perkemahan di Brownsea Island, Inggris, bersama dengan 22 remaja laki-laki yang mempunyai latar belakang yang berbeda. Perkemahan tersebut berlangsung selama 8 hari, yakni dari tanggal 25 Juli hingga 2 Agustus 1907.

Sejak perkemahan ini, Baden Powell bertambah serius untuk mengembangkan gerakan kepanduan. Bahkan, di tahun 2010 beliau telah memutuskan untuk mengakhiri karirnya di bidang militer dengan pangkat terakhirnya Letnan Jendral agar dapat fokus dalam mengembangkan pendidikan pramuka. Sebuah totalitas yang sangat luar biasa yang beliau kembangkan demi majunya dunia pramuka.

Pada tahun 1939, Baden powell beserta istrinya memutuskan untuk pindah dan menetap di Nyeri, Kenya. Seiring dengan hal tersebut, kondisi kesehatan Baden Powell mulai menurun, Ia mulai sakit-sakitan. Hingga di tanggal 8 Januari 1941, Baden Powell sang pendiri pramuka meniupkan nafas terakhirnya dan menutup usianya, beliau dimakamkan di pemakaman St. Peter, Nyeri Kenya.

Sejarah Pramuka di Dunia

Sejarah Pramuka
ilmusejarah.com

Sejarah Pramuka di Dunia

Semenjak Baden Powell menuliskan pengalamannya di dalam buku karyanya “Scouting for Boys” di tahun 1908, hal tersebut dianggap sebagai cikal bakal lahirnya gerakan Pramuka. Buku itu sengaja beliau buat sebagai panduan dalam acara perkemahan yang beliau rintis. Bukan hanya di Inggris, buku ini juga sangat laris di negara-negara lain.

Sejak itu organisasi-organisasi Pramuka pun mulai bermunculan, yang sebelumnya hanya dikhususkan untuk anak laki-laki saja dengan nama “Boys Scout”. Pada tahun 1912, Baden Powell dibantu adik perempuannya, Agnes, Baden Powell mendirikan organisasi Pramuka untuk perempuan dengan diberi nama “Girl Guides”.

Tidak butuh waktu lama, sejak buku “Scouting for Boys” diterbitkan, Pramuka semakin dikenal di seluruh Britania Raya dan Irlandia. Pada tahun 1910 beberapa negara juga telah memiliki organisasi Pramuka, diantaranya Prancis, Jerman, Yunani, Argentina, Denmark, Amerika Serikat, Singapura, Swedia, Russia, Finlandia, Meksiko, India dan Belanda.Organisasi rintisan Baden Powell terus mengalami perkembangan.

Pada tahun 1916, berdiri organisasi Pramuka untuk usia siaga yang diberi nama CUB (anak srigala). Kelompok ini juga sudah dilengkapi dengan buku panduan kegiatan dengan mengadopsi karya Rudyard Kipling yang berjudul “The Jungle Book”. Buku tersebut bercerita tentang Mowgli si anak rimba yang dipelihara oleh induk srigala di dalam hutan.

Baden Powell terus bergerak dan di tahun 1918 beliau mendirikan sebuah kelompok yang dikhususkan untuk remaja-remaja yang sudah berusia 17 tahun, kelompok tersebuut diberi nama “Rover Scout”. Pada tahun 1922, Baden Powell kembali menerbitkan buku yang berjudul “Rovering to Success” (Mengembara menuju sukses). Buku tersebut berkisah tentan seorang pemuda yang harus mengayuh perahu sampannya ke pantai bahagia.

Sejarah Awal Jambore Dunia

Jambore dunia dilaksanakan untuk pertama kalinya pada tanggal 30 Juli 8 Agustus 1920 di Olympia Hall, London. Sebanyak 34 negara dan 8.000 anggota Pramuka ikut serta dalam mengikuti acara Jambore itu. Pada kesempatan itu juga, Baden Powell dinobatkan sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).

Di tahun yang sama, dibentuklah Dewan Internasional Pramuka yang beranggota 9 orang. Kota London ditetapkan sebagai kator sekretariat Pramuka sedunia. Walaupun kemudian pada tahun 1958 kantor tersebut dipindahkan ke Ottawa, Kanada. Terakhir pada tahun 1968, sekretariat Pramuka sedunia pindah lagi ke Geneva, Swiss.

Jambore Pramuka Sedunia

Sejarah Pramuka
ilmusejarah.com

Saat semenjak itu, acara Jambore Dunia terus diselenggarakan sampai saat ini. Jambore selanjutnya, yakni Jambore XXIV akan dilaksanakan di West Virginia, Amerika Serikat. Berikut ini daftar lengkap Jambore Dunia yan pernah diselenggarakan:

Jambore I Dunia tahun 1920: Olympia, Kensinton, London Inggris (8.000 orang)

Jambore II Dunia tahun 1924: Ermelunden, Denmark (4.549 orang)

Jambore III Dunia tahun 1929: Birkenhead, Inggros (30.000 orang)

Jambore IV Dunia tahun 1933: Godollo, Hungaria (25.792 orang)

Jambore V Dunia tahun 1937: Vogelenzang, Bloemendaal, Belanda (28.750 orang)

Jambore VI Dunia tahun 1947: Moisson, Prancis (24.152 orang)

Jambore VII Dunia tahun 1951: Bad Ischl, Austria (12.884 orang)

Jambore VIII Dunia tahun 1955: Niagara-on-the-Lake, Kanada (11.139 orang)

Jambore IX Dunia tahun 1957: Sutton Park, Inggris (30.000 orang)

Jambore X Dunia tahun 1959: Los Banos, Laguna, Filipina (12.203 orang)

Jambore XI Dunia tahun 1963: Marathon, Greece (14.000 orang)

Jambore XII Dunia tahun 1967: Farragut State Park, Amerika Serikat (12.011 orang)

Jambore XIII Dunia tahun 1971: Fujinomiya, Jepang (23.758 orang)

Jambore XIV Dunia tahun 1975: Lillehammer, Norwegia (17.259 orang)

Jambore XV Dunia tahun 1979: Neyshabur, Iran (dibatalkan)

Jambore XV Dunia tahun 1983: Calgary, Kanada (14.752 orang)

Jambore XVI Dunia tahun 1987-1988: Sydney, Australia (14.434 orang)

Jambore XVII Dunia tahun 1991: Gunung Seorak, Korea Selatan (20.000 orang)

Jambore XVIII Dunia tahun 1995: Flevoland, Belanda (28.960 orang)

Jambore XIX Dunia tahun 1998-1999: Picarquín, Chili (31.000 orang)

Jambore XX Dunia tahun 2002-2003: Sattahip, Thailand (24.000 orang)

Jambore XXI Dunia tahun 2007: Hylands Park, Inggris (38.074 orang)

Jambore XXII Dunia tahun 2011: Rinkaby, Swedia (40.061 orang)

Jambore XXIII Dunia tahun 2015: Kirarahama, Jepang

Sejarah Pramuka di Indonesia

Sejarah Pramuka di Indonesia bisa dikatakan unik, karena kemunculannya diwarnai dengan proses pasang surut dalam berorganisasi. Masa awal-awal tumbuhnya gerakan Pramuka di Indonesia adalah pada saat Indonesia masih dalam masa penjajahan. Oleh sebab itu, dalam pembahasan kali ini mengenai sejarah Pramuka di Indonesia akan kita urai menjadi tiga bagian, yaitu Sejarah Pramuka pada masa penjajahan Belanda, Sejarah Pramuka pada masa penjajahan Jepang, dan Sejarah Pramua pada masa Indonesia merdeka.

Sejarah Pramuka di Indonesia Pada Masa Penjajahan Belanda

Organisasi Pramuka Baden Powell ternyata sampai gaungnya ke Indonesia. Gerakan Pramuka ini dibawa langsung oleh Penjajah Belanda ke Indonesia di masa kolonial. Belanda mendirikan organisasi kepanduan pertama di Indonesia yang diberi nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vareenigning) yang berarti Persatuan Pandu-pandu Hindia Belanda. Istilah Padvinders merujuk pada istilah organisasi Pramuka yang ada di negeri Belanda.

Ternyata organisasi kepanduan ini mendapat perhatian dari para pemimpin gerakan kemerdekaan Indonesia. Mereka melihat bahwa pada pendidikan dan pelatihan gerakan kepanduan bisa dimanfaatkan untuk membentuk karakter manusia, khususnya untuk penduduk Indonesia. Para tokoh pergerakan tersebut sepakat untuk mendirikan organisasi yang sama.

Semenjak itu mulailah bermunculan organisasi-organisasi kepanduan yang dilatarbelakangi oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan, seperti HW (Hisbul Wathon, JPO (Javaanse Padvinders Organizatie), JJP (Jong Java Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery) dan NATIPJ (Nstionale Islamitche Padvindery).

Pemakaian istilah Padvendery yang digunakan dalam kelompok-kelompok tersebut tidak disukai dan dilarang oleh Belanda. Akan tetapi para tokoh nasional Indonesia tidak kehabisan ide. Salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan K.H Agus Salim, istilah Padvindery diganti dengan istilah Pandu dan Kepanduan.

Berkembangnya Organisasi Kepanduan

Setelah peristiwa Sumpah pemuda, Rakyat Indonesia mulai sadar terhadap rasa nasionalis. Beberapa organisasi kepanduan berkembang menjadi organisasi yang lebih besar. Pada tahun 1930, organisasi PK (Pandu Kesultanan), IPO, dan PP (Pandu Pemuda Sumatera) bergabung menjadi satu dan membentuk KBI ( Kepanduan Bangsa Indonesia).

Pada tahun 1931, didirikanlah wadah baru untuk gerakan kepanduan Indonesia yang diberi nama PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia). Beberapa tahun setelah itu, tepatnya pada tahun 1938, organisasi ini berubah nama menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia). Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) berencana untuk melakukan kegiatan All Indonesia Jamboree, sebagai upaya menggalang rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Akan tetapi,, sepertinya rencana tersebut tidak berjalan lancar, beberapa perubahan harus segera dilakukan, baik itu pada waktu pelaksanaan maupun dengan nama kegiatan. Setelah melakuakan beberapa pertimbangan, kegiatan ini akhirnya bisa dilaksanakan. Nama kegiatan yang disepakati diganti dengan PERKINO (Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem) dan diselenggarakan pada tanggal 29 hingga 23 juli 1941 di Yogyakarta. Perkemahan inilah yang menjadi otak pelaksanaan kegiatan Jambore Nasional yang sering kita perhatikan saat sekarang ini.

Sejarah Pramuka Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang

Gerakan Pramuka Indonesia masih tetap bertahan dibawah penjajahan Jepang. Akan tetapi, gerakan kepanduan ini mendapatkan beberapa hambatan. Pada masa Perang Dunia ke-2, tentara Jepang melakukan penyerangan terhadap Belanda. Banyak tokoh Kepanduan Indonesia yang ditarik masuk ke PETA, Keibondan dan Seinendan, organisasi yang dibentuk Jepang yang dimanfaatkan untuk tentara Jepang.

Tidak hanya itu, ternyata Jepang melarang berdirinya Partai dan Organisasi pada rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepanduan. Jepang menganggap organisasi tersebut berbahaya, karena bisa meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan Indonesia. Akan tetapi, upaya mereka tidak dapat menyurutkan semangat para tokoh Kepanduan Indonesia untuk menyelenggarakan PERKINO II, banyak pandu yang ikut terjun dan saling membantu dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk mengusir tentara Jepang.

Sejarah Pramuka Indonesia Masa Kemerdekaan

Setelah Proklamasi Kemederkaan Indonesia, pada tanggal 28 Desember 1945 di kota Solo, dibentuklah Organisasi Pandu Rakyat Indonesia. Organisasi ini ditetapkan sebagai satu-satunya tempat dimana anggota kepanduan Indonesia bernaung. Penetapan ini dikuatkan juga dengan keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Pengajaran Nomor 93/Bhg.A, tanggal 1 Februari 1947.

Namun, seiring berjalannya waktu, organisasi-orgnasisai kepanduan yang sebelumnya pernah ada pada perang dunia ke-2 kembali lahir. Oleh karena itu Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan mengeluarkan keputusan Nomor 2344/Kab, pada tanggal 6 September 1951 yang memungkinkan berdirinya organisasi

Namun, seiring berjalannya waktu, tahun 1950 banyak bermunculan organisasi-organisasi kepanduan yang pernah ada pada Perang Dunia ke-2. Oleh sebab itu, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Nomor 23441/Kab, Tanggal 6 September 1951 yang memungkinkan berdirinya organisasi kepanduan lain selain dari Pandu Rakyat Indonesia.

Memasuki tahun 1961, sudah ada sekitar 100 organisasi kepanduan yang ada di Indonesia. Organisasi-organisasi tersebut tergabung dalam 3 federasi yaitu, Persatuan Pandu Putri Indonesia (POPPINDO), Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) dan Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI). Akan tetapi, untuk menyikapi kelemahan yang ada, maka ketiga federasi tadi digabung menjadi satu membentuk Persatuan Kepanduan Indonesia (PERKINDO).

DIkarenakan adanya kepentingan satu golongan yang tinggi mengakibatkan PERKINDO masih lemah. Kelemahan tersebut disadari oleh pihak komunis yang ingin mengubah PERKINDO menjadi gerakan Pioner Muda, seperti yang ada di negara-negara komunis. Akan tetapi, Jiwa semangat Pancasila PERKINDO membuat seluruh anggotanya menentang keras kemauan Komunis tersebut.

Untuk menghambat kepentingan komunis tersebut, dikeluarkan Keppres No. 238 tahun 1961 mengenai Gerakan Pramuka, dan ditandatangai oleh Ir. Juanda, yang pada saat itu menjabat sebagai Pjs Presiden Republik Indonesia, karena Presiden Soekarno sedang dalam kunjungan ke Jepang.

Melalui Keppres tersebut, pemerintah menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunga Organisasi di wilayah Indonesia yang mendapatkan izin untuk melakukan pendidikan kepramukaan, sehingga organisasi lain yang memiliki kesamaan dengan gerakan Pramuka dilarang keberadaannya.

Perkembangan Gerakan Pramuka Indonesia

Gerakan Pramuka berkembang dengan pesat sangat ditunjang oleh ketentuan dalam Anggaran dasar gerakan Pramuka yang mengatur metode pendidikan Kepramukaan. Ketentuan tersebut memberikan banyak perubahan untuk gerakan Pramuka, yakni menjadikan Pramuka lebih kuat secara organisasi dan cepat berkembang dari kota ke desa.Dengan adanya pengaturan yang jelas mengenai sistem Majelis Pembimbing dan disiplin dijalankan pada setiap tingkatan, baik itu di tingkat Nasional maupun pada tingkat Gugus depan.

Pada tanggal 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan ke seluruh masyarakat Indonesia. Apel besar Pramuka yang dihadiri oleh 10.000 anggota Gerakan Pramuka dilanjutkan dengan pawai pembangunan defile di hadapan Presidenm serta berkeliling mengelilingi Jakarta. Peristiwa pengenalan ini terjadi pada tanggal 14 Agustus 1961 dan kemudian ditetapkan sebagai hari Pramuka Nasional yang diperingati setiap tahun oleh seluruh anggta Gerakan Pramuka Se-Indonesia.

Jambore Nasional Indonesia

Jambore Nasinal (Jamnas) merupakan istilah yang disematkan saat Pertemuan Pramuka Penggalang se-Indonesia dengan bentuk perkemahan besar, pertemuan ini diselenggarakan oleh Kwartir Nasional (Kwarnas). Jambore Nasional dilaksanakan sekali dalam 5 tahun dengan peserta yang berasal dari seluruh Kabupaten dan Kota se-Indonesia.

Hingga saat ini kegiatan Jambore Nasional telah diadakan 10 kali, berikut ini adalah daftar lengkap Jambore Nasional yang sudah pernah diselenggarakan:

Jambore Nasional ke-1 tahun 1973: Situ Baru, Jakarta

Jambore Nasional ke-2 tahun 1977: Sibolangit, Sumatera Utara

Jambore Nasional ke-3 tahun 1981: Cibubur, Jakarta

Jambore Nasional ke-4 tahun 1986: Cibubur, Jakarta

Jambore Nasional ke-5 tahun 1991: Cibubur, Jakarta

Jambore Nasional ke-6 tahun 1996: Cibubur, Jakarta

Jambore Nasional ke-7 tahun 2001: Baturaden Jawa Tengah

Jambore Nasional ke-8 tahun 2006: Jatinangor, Jawa Bara

Jambore Nasional ke-9 tahun 2011: Danau teluk gelam Kab. Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan

Jambore Nasional ke-10 tahun 2016: Cibubur, Jakarta.

Sekian Uraian mengenai Sejarah Pramuka di Dunia dan Indonesia (Lengkap), semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan Anda.

Terima Kasih

Sejarah dan Asal-Usul Danau Toba Di Sumatera Utara

Sejarah Danau Toba menurut Cerita rakyat

Sejarah Danau Toba – Danau Toba merupakan salah satu destinasi wisata favorit di daerah Sumatera yang sering dikunjungi oleh para wisatawan adalah Danau Toba. Danau ini terletak pada tengah-tengah provinsi Sumatera Utara dan dikelilingi oleh kab. Samosir, kab. Simaungun, kab. Humbang Hasundutan, kab. Karo, kab. Dairi dan kab. Tapanuli Utara.

Danau tekto-Vulkanik ini adalah danau yang terbesar di Asia Tenggara karena memiliki panjang 87 km, lebar 2 km, ketinggian lokasi 904 meter diatas permukaan laut dan kedalaman danau Toba mencapai 505 meter.Secara Geografis,Danau Toba terletak pada koordinat 980,30° s/d 990,01° Bujur Timur dan 20,24° s/d 20,48° Lintang Utara.

Danau Toba dikelompokan sebagai daerah yang beriklim tropis basah dengan tipe iklim C hingga E, shunya berkisar antara 170°c hingga 290°c dan kelembapan udara rata-rata 85,04%.Dari Danau Toba ini, mengalir sebuah sungai besar yang bernama sungai Asahan. Sungai ini mengalirkan air ke daratan rendah hingga ke daerah perairan selat Malaka di timur pulau Sumatera. Derasnya aliran sungai ini pada akhirnya digunakan oleh pemerintah setempat sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Sejarah Danau Toba dan Awal Mula Terbentuknya

Sejarah Danau Toba
wikipedia.org

Dalam sejarah, Sebelumnya Danau Toba merupakan gunung berapi yang disebut gunung Toba. Gunung ini memiliki kantung magma yang sangat besar, yang apabila meletus akan menghasilkan daya ledak yang sangat dahsyat.Kantung magma Gunung Toba disuplai oleh banyaknya lelehan sedimen lempeng benua yang saling beresek secara hiperaktif, yaitu lempeng Indo-Australia yang memiliki banyak kandungan sedimen dan lempeng Eurasia yang menjadi tempat duduknya pulau Sumatera.

Letak kedua lempeng itu berada pada kedalaman 150 km dibawah bumi.Gesekan dari lempeng Indo-Australia dan Eurasia menghasilkan panas, sehingga melelehkan bebatuan sekitar. Setelah itu lelehan tersebut naik ke atas menjadi magma. Oleh karena seringan kedua lempeng tersebut bergesekan, magma yang dihasilkan cukup banyak dan dapat menghasilkan ledakan yang sangat dahsyat.

Dari beberapa literatur, tercatat bahwa gunung Toba pernah mengalami letusan sebanyak 3 kali.

  1. Letusan pertama gunung Toba terjadi sekitar 800 ribu tahun yang lalu dan membentuk kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Porsea dan Prapat.
  2. Letusan kedua terjadi sekitar 500 ribu tahun yang lalu dan menghasilkan kaldera di utara Danau Toba, yaitu daerah antara Haranggaol dengan Silalahi.
  3. Gunung Toba terakhir meletus pada 74.000 tahun lalu. Letusan terakhir ini disebut-sebut sebagai letusan paling dahsyat dalam sejarah Dunia. Meskipun sama sekali tidak tercatat di dalam buku, namun bukti-bukti ilmiahnya bisa ditemukan di masa kini.

Para ahli memperkirakan bahwa letusan gunung Toba menghasilkan ledakan supervulkanik dengan skala yang besar sekitar 8.0 Volcanic Explosivity Index (VEI). Apabila dibuat perbandingan, ledakan bom nuklir yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki memiliki daya ledak 0,015 megaton TNT, letusan pada gunung Krakatau memiliki daya ledak sebesar 150 megaton TNT, maka letusan gunung Toba diperkirakan memiliki daya ledak 26.000 megaton TNT dan mampu menghancurkan area Sumatera seluas sekitar 20.000 km².

Letusan gunung Toba yang terakhir kali terjadi memuntahkan lebih dari 1.000 km² material letusan. Ketinggian letusannya mencapai 50 km. Material abunya menyebar ke seluruh atmosfer bumi, sehingga menutupi cahaya matahari yang bersinar ke bumi selama beberapa tahun. Akaiatnya temperatur bumi pada saat itu turun hingga 3-5°c.

Selain menghasilkan tsunami yang besar, letusan gunung Toba juga menyebabkan kematian massal manusia dan spesies makhluk hidup lainnya. Dari beberapa hasil penelitian yang sudah dilakukan, letusan gunung Toba diduga menyusutkan sekitar lebih dari 60% populasi manusia pada saat itu, yaitu sekitar 60 juta jiwa.

Dugaan ini berdasarkan pada dua hal Pertama, material abu yang jatuh ke seluruh permukaan dunia menyebabkan habitat manusia tertimbun. Kedua, dengan tidak adanya cahaya yang masuk mengakibatkan fotosintesis pada tumbuhan terhambat. Hal ini berakibat pada langkanya bahan makanan, sehingga menyebabkan kelaparan yang luar biasa yang berujun pada kematian masal.

Setelah gunung Toba meletus, gunung ini memebentuk kaldera yang kemudian terisi air, akirnya menjadi danau yang besar dan merupakan danau terbesar di dunia. Danau inilah yang dikenal dengan nama danau Toba.

Sejarah Danau Toba Menurut Cerita Rakyat

Sejarah Danau Toba menurut Cerita rakyat
wisatadewatabali.worpress.cm

Di wilayah sumatera, hiduplah seorang petani yang sangat rajin mencari nafkah. Ia hidup seorang diri. Setiap hari Ia selalu bekerja menggarap ladan dan juga mencair ikan dengan tekun dan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari.

Keesokan harinya, petani tersebut pergi ke sungai dekat tempat tinggalnya untuk mencari ikan. Dengan berbekan sebuah kali, umpan dan tempat untuk tangkpannya, Ia pun langsung bergegas menuju sungai. Setelah sampai di sungai, petani tadi langsung melemparkan kailnya. Sembari menunggu kailnya di hampiri ikan, petani tersebut berdo’a, “Ya Allah, semoga aku mendapatkan ikan yang banyak hari ini”. Beberapa saat kemudian setelah berdo’a, kail yang Ia lemparkan tadi bergoyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersbut terkejut dan merasa sangat senang, karena ikan yang Ia dapatkan sangat besar dan cantik sangat cantik.

Ikan Cantik

ikan mas danau toba
ilmusejarah.com

Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannga, petani itu sangat terkejut mendengar ikan tangkapannya bisa berbicara, “Tolong aku, jangan makan aku pak!! Biarkan aku hidup”, teriak ikan tersebut. Tanpa banyak tanya, ikan tangkapan tersbut langsung dikembalikan kedalam air. Setelah mengembalikan ikan tersebut kedalam air, petani tersebut bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi wanita yang sangat cantik.

“Jangan takut pak, aku tidak akan menyakiti bapak”, kata si ikan. “Siapa kamu? Bukankah kamu seekor ikan?”, Tanya si petani, “Aku adalah seorang putri yang dikutuk, karena aku melanggar aturan kerajaan”, Jawab wanita itu. ” Terima kasih, engkau telah membebaskan kau dari kutukan, sebagai imbalannya aku bersedia menjadi isti engkau”, Kata wanita itu. Petani tersebut berpikir dan menyetujuinya.

Perjanjian dan Malapetaka

sejarah danau toba
ilmusejarah.com

Maka jadilah mereka menjadi suami istri. Akan tetapi, ada sebuah janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak menceritakan asal-usul Putri. Apabila janji itu dilanggar, maka akan terjadi petaka yang sangat dahsyat (cerita). Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya mereka mencapai kebahagiaan, karena mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.

Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat kuat dan tampan, akan tetapi ada kebiasaan buruk yang membuat semua orang heran. Anakn tersebut selalu merasa lapar dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa meninggalkan sisa.

Hinga pada suatu hari anak petani tersebut mendapatkan tugas dari ibunya untuk megantarkan makanan dan minuman ke sawah ditempat ayahnya bekerja. Akan tetapi tugasnya tidak bisa Ia penuhi. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahapnya tanpa meninggalkan sisa dan setelah itu Ia tertidur di dalam gubuk.

Petani menuggu kedatangan anaknya sambil menahan rasa haus dan lapar. Karena tidak tahan untuk menahan lapar, petani tersebut langsung ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, petani tersebut melihat anaknya yang sedang tidur di dalam gubuk. Petani tersebut langsung membangunkannya “Hei bangun!” Teriak petani tersebut.

Setelah anaknya terbangun, petani tersebut langsung menanyakan makanannya, “Mana makanan ayah?”,Tanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan nada tinggi petani tersebut langsung memarahi anaknya. “Anak tidak tau diuntung! Tidak tahu diri! Dasar anak ikan!” umpat petani tanpa menyadari telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.

Setelah petani tersebut mengucapkan kata-kata tersebut, seketika saja anak dan istrinya hilang tanpa bekas dan jejak. Dari bekas innjakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Air tersebut meluap sangat tinggi dan luas, sehingga membentuk sebuah telaha. Dan akhirnya membentuk sebuah danau, danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.

Pulau yang Berada di Tengah Danau Toba

Di tengah Danau Toba, terdapat lima buag pulau yang membuat pemandangan alamnya menjadi semakin indah. Pulau-pulau tersebut muncul disebabkan tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar. Lima pulau tersebut diantaranya:

1. Pulau Tao

sejarah danau toba pulau tao
ilmusejarah.com

Pulau Tao memiliki nama lain yaitu pulau Malau. Pulau ini memeliki ukuran yang kecil, panjang yang dimiliki pulau ini sekitar 1 km dan terletak di sebelah timur pula Samosir. Pulau Tao atau Malau termasuk ke dalam wilayah kecamatan Simanindo.

Pada pulau ini dulunya terdapat sebuah hotel dan juga restoran, akan tetapi karena pulau ini jarang dikunjungi oleh wisatawan, akhirnya hotel tersebut ditutup. Hanya restorannya saja yang hingga kini masih aktif beroperasi. Dari pulau ini para wisatan bisa melihat dengan jelas pemandangan bukit barisan dan juga keutuhan pulau Samosir.

2. Pulau Samosir

sejarah danau toba dan pulau samosir
ilmusejarah.com

Pulau Samosir merupakan pulau tengah terbesar yang kelima di Dunia. Pulau ini memiliki ketinggian kurang lebih 1.000 meter atau 1 kilo meter diatas permukaan laut. Konon, dahulu pulau ini menyatu dengan pulau Sumatera dan berbentuk seperti sebuah tanjung di Danau Toba. Kemudian di masa penjajahan Belanda dibangunlah kanal sungai sehingga memutuskan dataran Samosir dan dataran Sumatera. Akhirnya Pulau Samosir terpisah dengan Danau Toba dan menjadi pulau sendiri.

Pulau Samosir ini telah berabad-abad dihuni oleh penduduk dari suku batak. Mereka mengembangkan budayanya di Pulau Samosir dan tepi Danau Toba, serta mengembangkan keturunan mereka menjadi lima kelompok suku, diantaranya, Angkola-Mandailing, Simalungun, Karo, Pakpak-Dairi dan Toba.

Pada saat ini pulau Samosir termasuk kedalam wilayah Kabupaten Samosir yang baru dimekarkan di tahun 2003 dari bekas Kabupaten Toba-Samosir. Di pulau Samosir ini sendiri terdapat enam kecamatan dari sembilan kecamatan yang masuk kedalam Kabupaten Samosir.

3. Pulau Sibandang

Sejarah danau toba dan pulau sibandang
ilmusejarah.com

Pulau Sibandang merupakan pulau terbesar kedua di Danau Toba dan terletak di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Pulau Sibandang sendiri memiliki ketinggian mencapai 1173 meter diatas permukaan laut. Bibir pantai pulau ini terbentuk dari batuan yang tersusun rapi secara alami, sehingga menambah daya tarik dan keindahan pesona alamnya.

Pulau Sibandang biasa dikenal juga dengan nama Pulau Mangga, karena merupakan salah satu pusat penghasil buah mangga yang memiliki rasa yang enak dan manis. Pulau Sibandang ini memiliki penghuni sekitar 800 kepala keluarga yang terdiri dari 4 marga, yaitu marga Simare-mare, marga Siregar, marga Oppusunggu dan marga Rajagukguk. Selain mangga, sumber penghasilan masyarakat ini berasal dari tangkapan laut yang seperti ikan pora-pora dan ikan lainnya.

4. Pulau Toping

Pulau Toping terletak di ujung Danau Toba, tepatnya di desa Silalahi Kab. Dairi. Menurut informasi yang berkembang, kedalaman dari Danau Toba hanya bisa diukur pada kawasan Silalahi ini. Sama halnya seperti pulau SIbandang, Pulau Toping yang memiliki ukuran kecil ini dikelilingi oleh bebatuan kecil yang tersusun rapi secara alami, sehingga menjadi nilai tambah dari indah pesona alamnya.

5. Pulau Tulas

Secara administratif, Pulau Tulas berada di Kecamatan Sianjur Mulamula Kabupaten Samosir. Letaknya berada tepat di titik 98° 38′ 43″ Bujur TImur dan 02° 38′ 37″ Lintang Utara. Pulau ini disebut-sebut juga masih perawan karena belum pernah dijejaki oleh manusia. Permukaan pulau ini diselimuti oleh hamparan berwarna hijau, karena hanya ditumbuhi oleh semak belukar dan beberapa jenis hewan yang hidup.

Dari kelima pulau tersebut, pulau yang paling terkenal dan paling sering dikunjungi oleh para wisatawan adalah pulau Samosir.